Postingan

Kapan main ke rumah lagi? Bapak Ibuku seneng kalo kamu main ke rumah

Gambar
Sabtu pagi di 30 Maretku tidak seperti rutinitas seperti biasanya. Lembur di kantor membuatku tetap bangun pagi-tetap mandi pagi-dan tetap cari sarapan pagi. Tapi, ide dari Khoi nyobain bubur jagung dekat patung arjuna, cukup membuat suasana hari ini berbeda.

Perjalanan pulang beli bubur jagung, terbesit pikir, lantas agak ragu aku menanya,
"Kamu berencana pulang jam berapa, Khoi?"
"Jam 1 kalo nggak jam 2"
"Tawaranmu kemarin malam masih berlaku?"
"Kamu berubah pikiran, Us?"
"Menurutmu gimana?"
Kamu diam. Hanya hening yang ada dalam tanyaku di atas motormu yang melaju saat itu. Ah sudahlah, nanti saja.

Sesampai di tempat parkir motor kantor, aku bergegas ke lantai 2, membawakan bubur jagungnya teman-teman, kemudian Khoi bertanya kepadaku, memastikan,
"Jadi main ke rumahku, Us?"
"Jadi Khoi, nanti aku ambil piket sampai jam 3 ya"
"Yaa, aku nanti ikut sampai sore juga berarti"

Sore harinya, dalam guyur hujan yang tak begi…

Aku Pulang. Pulang walau sebentar

Gambar
Assalamu’alaikum pembaca. Di saat kamu membaca tulisan ini, mungkin sedang pagi, siang, sore atau mungkin malam. Terimakasih telah berkunjung di blog pribadiku, membaca kisah tentang catatan kehidupan. :)
Hari kamis di minggu ini bertepatan dengan tanggal merah. Mau nggak mau seluruh aktivitas dinas dan pendidikan libur dong. Begitupun berlaku bagi kampus, yang mengharuskan dosen dan mahasiswanya untuk libur. Tidak ada kegiatan berarti yang aku lakukan untuk mengisi kekosongan liburku. Aku mengisinya dengan menuntaskan yang belum tuntas, mengerjakan tugas resume dan membaca novel misalnya. Membaca novel? Jangan tanyakan. Hobi-ku sejak SMP adalah membaca novel. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya telah menjadikan aku jatuh cinta kepada novel, menjadikan aku ingin selalu membaca dan menghayati setiap goresan tinta yang dipikirkan para penulis hebat. Hari jumat di minggu ini aku berencana untuk pulang ke rumah. Pulang ke Temanggung. Ada acara resepsi Mas’ku di Temanggung. Harus pulang…

Namamu, di ayat suciNya

Gambar
Hari Ahad, tanggal 3 September 2017
Aku buru-buru. Bergegas mengejar KRL yang sebentar lagi berangkat. Tanpa sempat memperhatikan orang-orang, aku langsung saja naik ke KRL jurusan stasiun Manggarai dengan sigap. Melelahkan. Bagaimana tidak, tiga hari yang lalu aku berada di Semarang untuk menjenguk kampus lama dan dua hari kemudian aku berada di Temanggung untuk melakukan Ibadah Sholat Iedul Adha. Dan sekarang? Aku sudah berada di Jakarta. Melakukan perjalanan lintas provinsi, Bekasi - Tangerang Selatan, menggunakan KRL karena besok senin kegiatan kuliah di kampus baruku akan dimulai.

Berdesak-desakan di KRL membuatku harus banyak-banyak bersabar. Aku tidak paham jika KRL selalu sibuk di jam-jam pagi di weekend, karena banyak masyarakat bodetabek yang akan menghabiskan weekendnya di Jakarta kota. Jadi, sepertinya aku akan datang terlambat menghadiri undangan yang diselenggarakan di MBM itu. Ya sudahlah, apa boleh buat.

Pukul 08.30.
Aku tiba di kosku sekitar pukul setengah sembilan. T…

Terlalu bersyukur

Apakah salah jika kita terlalu bersyukur terhadap apa yang kita punya saat ini? Seorang teman pernah berkata, “sesuatu yang berlebihan tidak disukai oleh Allah. Jika terlalu bersyukurnya kamu membuat kamu berlebihan dalam bersyukur, tentu itu salah. Apalagi dengan hal itu, kamu menjadi tak bisa merelakan dengan ikhlas”. Apakah salah jika rasa terlalu syukur yang kita miliki membuat kita lupa untuk menjaga, merawat, dan mempertahakan? Tentu ada benarnya, juga ada salahnya. Kita tidak bisa menafikkan bahwa manusia adalah tempatnya lupa, karena memang begitulah hakikatnya. Tetapi tak seharusnya kita mengabaikan dengan tidak menjaga, merawat, dan mempertahankan. Karena kita tau apa akibatnya? Karunia yang kau syukuri itu bisa jadi pergi dan menghilang, dan yang tersisa adalah gurat-gurat kekecewaan. Maka intinya adalah : Bersyukurlah tapi jangan berlebihan dan tetaplah jaga hal yang membuatmu bersyukur. Tetaplah bersabar dan belajarlah ikhlas :)

HAI SENJA

Senja bolehkah aku bercerita? Terkadang menyesakkan Terkadang menyisakan lara Walau kutahu Itu bukan karenamu Bukan juga karenanya
Senja bolehlah aku mengadu? Tentang rindu yang menjemu Akan canda tawa merdu Walau kutahu Semua itu semu Semu yang menipu
Senja aku ingin memelukmu Dalam dekap tangis sendu Menyakitkan tak tertahankan Entah apa yang terjadi Aku tak tau, Mungkin saja Semu karenamu yang kurindu
Bintaro, 24 April 2017

A L F I N (bukan) the Chipmunks

Gambar

Rinduku pada pulang

Gambar
Temanggung, 29 Januari 2018



"Sejauh apapun kamu melangkah, akan kupastikan kamu pulang ke rumah" 

Hari ini sejuk. Dingin. Dan menyenangkan.
Hari ini, pada waktu ini, saat menulis cerita ini, aku sedang duduk di sudut kamarku, ditemani dengan segelas teh dan gerimis air hujan. Jangan salah. Gerimis di sini berbeda dengan gerimis-gerimis yang pernah ada di kota lain. Rintiknya yang mengenai atap rumah, seolah menyiratkan cerita pada siapa saja yang pernah mengalami masa lalu dengan hujan. Hingga akhirnya, hujan dan gerimis selalu dinobatkan sebagai simbol cerita masa lalu, dan selalu mengingatkan pada siapa saja yang punya kenangan dengan hujan, dan orang yang terlibat di dalamnya. Hujanku, segelas teh, dan kenanganku. Inilah dia.


Temanggung memang tak pernah lupa memberikan kesejukannya kepada siapapun yang pulang untuk sekadar melepas kerinduan. Temanggung yang dingin bahkan selalu memberikan kehangatan kepada setiap orang yang ingin mendapatkannya. Temanggung adal…